Ermaningsih Bikin Roti Rumahan

images-andes-rotirumah 1-387x584Berawal dari iseng-iseng berbisnis, kini Ermaningsih (40) menjadi pengusaha roti rumahan. Usaha rumahan ini ia pilih agar Ermaningsih tetap fokus mengurus anak dan suami.

Dulu, dalam pikiran Erma, ibu rumah tangga itu hanya bisa mengurus keluarga. Tak ada aktivitas yang bisa mendatangkan uang. “Ternyata anggapan itu tidak benar. Justru saya bisa menjalankan kedua peran itu dengan baik, sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjadi pengusaha,” kata wanita asal Blora, Jawa Timur ini.

Keinginan berbisnis itu muncul ketika Erma mulai merasa banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Ia mengatakan, sebetulnya, pendapatan dari sang suami, Parno (52) cukup untuk biaya sehari-hari. “Namun, setelah ketiga anak saya, Aprilia Wahyuningtyas (17), Yania Wahyupangestika (15), dan Adinda Handayani (11) beranjak dewasa, kebutuhan semakin banyak,” tuturnya.

Sempat terpikir untuk bekerja kantoran, tapi tak mungkin karena dirinya ingin total mengurus keluarga. Suatu hari ia menonton televisi. Di tayangan itu ada seorang ibu rumah tangga yang sukses berbisnis kuliner. “Dia saja bisa, masak saya tidak bisa,” begitu pikirnya saat itu. Iseng-iseng, ia pun mencari tahu pelatihan bisnis yang bisa mengakomodir keinginannya.

Dari situlah akhirnya Erma menemukan UKMKU. Ia pun memulai pelatihan menjadi pengusaha rumahan. “Saya benar-benar memulainya dari nol. Saya tidak punya bakat dan ide, yang penting ada kemauan,” jelasnya. Sesampainya di tempat pelatihan, Erma sempat kebingungan karena tak tahu harus mengikuti pelatihan apa. “Tiba-tiba saya terbesit ingin membuat bisnis roti rumahan. Sepertinya bisnisnya tidak terlalu sulit,” jelasnya.

Ketika pelatihan dimulai, Erma selalu bertanya kepada mentornya. Dari hal-hal kecil sampai hal besar. “Saya bertanya karena memang tidak mengerti bisnis sama sekali,” lanjutnya. Sampai-sampai mentor mencap sebagai murid yang banyak tanya. Tapi ia tak peduli. Baginya, lebih baik banyak bertanya agar paham dan bisa menjalani bisnis. 

alt

KELUARGA TETAP UTAMA

Selesai pelatihan membuat roti, Erma pun langsung mengaplikasikan ketrempilannya tersebut di rumah. Untuk tahap awal, ia memproduksi roti sebanyak 39 buah. “Sekitar 26 roti saya titip jual ke warung-warung terdekat dan sisanya saya kasih ke keluarga,” jelasnya. Ternyata masalah tak selesai di situ. Saat menawarkan roti-roti tersebut kepada masyarakat, Erma sempat malu menjadi penjual roti. Banyak anggapan yang terbesit di pikirannya. Jangan-jangan orang-orang akan mencemooh, atau, masak suaminya masih bekerja tapi istrinya sudah berjualan roti. Memangnya penghasilan suami tidak cukup? Begitulah pikiran negatif yang terbesit di pikirannya.

Ternyata Erma baru tahu, bahwa berbisnis itu butuh keberanian dan harus menghilangkan rasa malu. Untuk itu, ia memasang strategi agar roti buatannya laku. Ia tak segan-segan meminta para pemilik warung untuk icip-icip roti buatannya. Ia juga menjelaskan bahwa roti buatannya itu tanpa bahan pengawet dan aman. “Dengan begitu mereka tahu rasa dan kualitas roti saya,” katanya. 

Di luar dugaan, cara ini membuat rotinya laris di warung-warung. Keesokannya Erma semakin semangat membuat roti. Dan lagi-lagi ludes terjual. Roti itu semakin laris manis lantaran ia membanderol Rp1.000 untuk satu buah roti. “Termasuk murah, bukan?” katanya mantap. Lambat-laun beberapa warung pun mulai memesan roti kepadanya. Namun, bukan berarti bisnisnya tanpa halangan. “Ada sebagian warung yang menolak roti saya,” ceritanya.

Bagi Erma, warung yang sudah menolak produknya tak akan ia datangi lagi. Ia akan mencari warung yang baru. Berhubung roti itu mulai laku, sampai-sampai warung yang pernah menolak roti buatannya akan mendatangi Erma. “Malah si pemilik warung sampai mendatangi rumah saya untuk dikirimi roti,” jelasnya sambil tertawa.

 

TARGET 60 WARUNG

Setelah satu tahun bisnis roti berjalan, kini roti buatan Erma dijual di 22 warung dekat rumahnya. Setiap hari, sekitar 400-500 buah roti ia produksi. “Dan syukurlah semuanya habis terjual,” katanya. Dari situ pula ia mengembangkan bisnis dengan cara membeli peralatan untuk menunjang produksi roti. Seperti, oven besar, mixer, dan lain-lain.

Sebelum semua alat-alat itu terbeli, Erma mengaku kesulitan memproduksi roti karena permintaan yang sangat tinggi. Belum lagi, semua itu ia kerjakan sendiri. Alhasil, tangannya menjadi sakit karena terlalu sering mengaduk adonan roti. Setelah mendapatkan keuntungan dari penjualan roti tersebut, ia juga merekrut karyawan untuk memproduksi roti. “Saya mengambil orang-orang di sekitar rumah yang masih muda-muda,” lanjutnya.

Erma juga bercerita, ketika pesanan mulai meningkat, ia sempat kerepotan mengurus anak. Malah, terkadang ia tak ada waktu untuk mengantar dan menjemput anak ke sekolah. “Suami saya sempat menegur saya gara-gara masalah ini. Ia meminta saya untuk mengutamakan keluarga,” katanya. Dari situlah, akhirnya Erma menyerahkan produksi roti kepada karyawannya. dengan begitu ia masih banyak waktu untuk mengurus keluarga.

Kata Erma, bisnis itu tergantung niat dari awal. Semenjak pertama kali merintis bisnis, tujuan utama ia tetap keluarga. “Jadi keluarga harus tetap nomor satu,” tuturnya. Ternyata, dengan begini bisnis Erma menjadi berkah. Buktinya, permintaan dari warung akan roti buatannya pun semakin meningkat. “Target saya tahun ini bisa mencapai 60 warung. Saya yakin pasti bisa,” tutupnya.

Tags:

Comments are closed.